RE
Hidup pula adalah rangakain
rutinitas yang berulang. Kita sering berada pada tempat yang sama untuk kesekian
kalinya, kita sering berjalan pada jalur yang sama untuk kesekian kalinya dan
kita juga mnegerjakan tugas yang sama dengan cara yang sama untuk kesekian
kalinya, entahlah, sudah berapa kali kita mengulangi rutinitas yang itu-itu
saja.
Kendatipun dempikian, peristiwa
berulangnya kegiatan kita, hendaklah bukan sautu pengurangan, atau juga bukan
suatu kehampaan akan nilai manfaat.
Seperti halnya sholat 5 wakt,
kita telah mengulanginya untuk rakaat yang banyak sejak kita sadar bahwa shalat
lima waktu itu wajib, hingga saat ini saya menulis dan anda membaca tulisan
ini.
Pengulangan shalat
ini bukanlah suatu rutinitas yang membosankan, tapi sebuah moment untuk
kesempatan mengoreksi dan melengkapi pada kesempatan yang lain jika Allah masih
berkehendak memberinya.
Dengan umur yang
terbentang ini, lantas mengapa kita haru mengulangi shalat itu? Apakah tidak
cukup bila seumur hidup kita hanya sekali saja mendirikan shalat? Jawabnya jelas
tidak cukup, sebuah predikat ketaqwaan tidak akan dicapai hanya dengan satu
kali perbuatan baik, maka dengan umur yang kita miliki Allah meminta kita untuk
beramal.
Amal itu akan diukur kontiniutas semangat,
ke-Istiqomah-an ikhlas dan kualitas maupun kuantitas, lantas semua kepingan
amal itu akan dikumpulkan dalam sebuah wadah, lantas kemudian diakumulasikan
untuk melunasi harga mahal dari sebentuk predikat ketaqwaan.
Hari yang berulang,
halaqoh ilmu yang jua berulang, memakan makanan yang sama, mengerjakan tugas
kerja yang tetap sama. Hendaknya kita rayakan dengan perasaan gembira layaknya
Imam Syafi yang senang bila mendapati ia duduk pada majelis yang mengulang lagi
ilmu yang pernah ia tela’ah.
Hari
boleh berulang, tapi satu hal yang tak boleh berulang, yaitu kualitas diri. Betapa
merugi jiwa yang hari ini, ternyata punya kualitas yang sama bahkan berkurang manfaatnya.
Jiwa yang membungkam
dari kata lelah, dalam upaya diri tertarbiyah, akan menambah nilai
kebermanfaatan dirinya. Tak perduli seberapa berat krisi yang ia hadapi, ia
adalah solusi yang telah keluar dari masalah pribadi untuk menyelesaikan masalah
orang lain.
Ikhlaslah dalam
ibadah yang berulang agar tak menyesal saat nyawa dijemput pulang.



1 komentar:
Saya setuju sebab orang akan semakin tahu kekurangan kita jika lama bergaul dengan kita
Tinggalkan Komentar anda ya,