Kisah Cinta Pemuda Ahli Ibadah
ilustrasi pemuda ahli ibadah © emasseattle.org
Puncak keimanan bisa diraih oleh seorang
hamba melalui jalan cinta. Namun, dari jalan itu pulalah ketergelinciran
iman sering bermula. Sehingga iman harus terus dijaga. Sebab ia bisa
naik menjulang atau terjun tanpa ampun.
Pemuda ahli ibadah di Kufah itu jatuh
cinta. Bukan saja jatuh, ia memasuki tahap tergila-gila pada gadis yang
dipujanya. Gayung bersambut, cintanya berbalas. Wanita itu menerima
cinta sang pemuda. Keduanya sama mabuknya. Bahkan, sang wanita lebih
nekat.
Katanya, “Aku akan mengatur cara supaya
kau bisa masuk ke dalam kamarku.” Demkian menggoda bujuk rayu yang
dihembsukan setan ke dalam hati sang wanita. Ia merasuk mendalam ke
dalam kalbu. Jika saja cinta pemuda ahli ibadah berbalut nafsu, tentu ia
akan mengiyakan ajakan wanita pujaan hatinya.
Tetapi, sang wanita amat terhenyak
mendengar jawaban pemuda menawan itu. Katanya teduh, “Aku takut kepada
Allah.” Sesederhana itu jawabnya. Tapi itulah sejatinya cinta. Cinta
yang suci, sebab iman telah mengalahkan syahwatnya.
Lantas, apakah cinta keduanya kendur atau
hilang? Ternyata, rasa itu semakin tumbuh, menjulang sekokoh gunung dan
menancap kuat ke dalam bumi. Cinta mereka justru bertumbuh semakin
menjadi, suci dan menyejarah.
Masa berlalu. Hingga akhirnya, wanita
dambaan hatinya itu meninggal, sebelum keduanya sempat merayakan cinta
di dunia dalam bingkai kehalalan. Syahdunya, sosok yang telah mati itu,
menemui sang pemuda, di alam mimpi. Dalam mimpi sang pemuda, wanita itu
terlihat lebih cantik. Menawan sekali. Kemudian, sang pemuda bertanya,
“Kau amat cantik. Apakah cintamu padaku telah berkurang atau hilang?”
Aduhai, betapa romantisnya jawaban sang
wanita. Katanya sembari tersipu malu, “Aku tetap mencintaimu.”
Ditukaslah jawaban itu oleh sang pemuda, “Lantas, kapan aku bisa bertemu
denganmu dan menghalalkan cinta kita?” Wanita penuh pesona itu
menjawab, amat meyakinkan, “Tak lama lagi, kau akan menemuiku.” Kemudian
berakhirlah dialog dalam mimpi itu ketika sang pemuda terbangun di
sepertiga malam yang terakhir.
Maka berdirilah ia dalam munajat
panjang-syahdu nan merindu kepada Rabbnya. Ia berdiri, rukuk dan sujud
dalam hening, pertanda cintanya yang teramat kepada Allah Yang Maha
Menciptakan.
Tak berselang lama, sekitar sepekan
selepas mimpi itu, sang pemuda mati. Dikisahkan, keduanya mendapat
ampunan sebab berhasil merawat cintanya dalam ketaatan. Ketika terbuka
peluang untuk bermaksiat penuh dosa, keduanya mampu memenangkan iman
atas syahwatnya.
Maka beruntunglah pemuda ahli ibadah itu
dan kekasihnya. Maka beruntunglah siapa pun diantara kita yang berhasil
meneladaninya. Sebab cinta memanglah suci. Tak elok jika ia dibumbui
nafsu dan berakhir dalam siksa neraka yang menyala. [pirman]
http://kisahikmah.com/kisah-cinta-pemuda-ahli-ibadah/


0 komentar:
Tinggalkan Komentar anda ya,