Anak Bawang
“Tak
diperhitungkan, tapi sesekali bisa bikin kejutan”
Sekarang
gilirannya; seorang anak yang memilki dua gigi kelinci besar di gusi atasnya,
putih wajahnya seperti anak Tionghoa, sempat terselip rasa ragu memanggil
namanya, sebab ada trauma ringan tentang betapa cueknya dia ketika tahapan #Tumbuhkan
membuka awal pelajaran dimulai, walaupun begitu adanya, yang namanya giliran yam
mau tak mau harus dipanggil juga.
Alis
mata kananku mengernyit ke atas, “Tumben,” lirih batinku.
Anak ini, tersenyum padaku
memamerkan dua biji gigi kelincinya, menggeliat ke kanan dan kiri, ambil
ancang-ancang dan bertakbir memulai praktek ibadah sholat.
Tahap demi tahapan praktek
ibadah ia lalu, anak sekecil ini sudah cukup bagus hafalan sholatnya, mulai
dari doa iftitah, al-fatiha, surat pendek, ruku, I’tidal, sujud, duduk diantara
dua sujud, terakhir duduk tasyahud akhir, nyaris sempurna! Hafalan Sholat
Masnanda!
Tak kusangka sejak awal,
ternyata cukup kuat hafalannya, walau hanya mendengarkan saja ditiap awal
membuka pagi di kelas, anak seperti ini tergolong pada jenis anak Auditori, ia
memiliki daya rekam pendengaran yang bagus, dia cukup mendengarkan sesekali
untuk bisa menghafalkan target-target hafalan jus amma dan hafalan bacaan
sholat.
Terkenanglah masa kecilku,
kelas 4 SD itu saja aku belum hafal bacaan sholat sedikitpun tak pernah
kuhafal, bahkan gerakan sholat saja aku tak hafal, apalagi jumlah rakaan dalam
tiap sholat, aku juga sering keliru, tapi mas Nanda yang baru kelas dua yang
sejak awal bertemu dengannya sering tergambar sebagai “Anak Bawang” eh malah
tadi memberikan kepadaku suatu pengingat akan sejarah perjalananku dalam
mengamalkan sholat lima waktu, pengalaman kecilku yang ternyata tak lebih bai
darinya, dari Masnanda aku belajar, tentang nilai akhir dari sebuah proses,
bahwa selama proses situ berlangsung, maka selama itu pula baik dan buruk tak
bisa menjadi penilain final dari prosesnya berkembang, ia akan terus belajar
menjadi makin baik atau bertambah buruk, nilai akhir itu hanya Allah yang
berhak memutuskan, karena dialah sebijak-bijak hakim yang ada, dialah yang
berhak memberikan nilai akhir, memberikan vonis surga atau neraka, manusia yang
baik adalah guru, yang mendoakan selalu untuk husnul khotimah dari prosesnya
belajar mengajar, dan tak luput pula ia menyelipkan anam muridnya untuk menjadi
lebih baik dari dirinya dan mendapatkan predikat terbaik disisi Allah.
Sering
dibeberapa kesempatan tema yang senada, aku selipkan pesan tentang nilai
terbaik,
“Nilai terbaik bukanlah angka 100 yang tertulis di rapor dan buku teman-teman, nilai terbaik bukanlah berapa banyaknya teman-teman mendapatkan bintang dari para Ustadz, tapi ketahuilah! Bahwa nilai terbaik itu adalah kejujuran; jujur mengerjakan soal, mendapatkan nilai dengan cara yang jujur, dan ketulusan mengerjakan apa yang Ustadz/Ustadzah minta, hanya Allah yang maha Indah yang sanggup memberikan hadiah kepada anak-anak yang jujur dan tulus, jadi sang juara itu adalah mereka para murid yang jujur dan tulus menjalani tugas-tugas mereka sebagai penuntut ilmu.
“Nilai terbaik bukanlah angka 100 yang tertulis di rapor dan buku teman-teman, nilai terbaik bukanlah berapa banyaknya teman-teman mendapatkan bintang dari para Ustadz, tapi ketahuilah! Bahwa nilai terbaik itu adalah kejujuran; jujur mengerjakan soal, mendapatkan nilai dengan cara yang jujur, dan ketulusan mengerjakan apa yang Ustadz/Ustadzah minta, hanya Allah yang maha Indah yang sanggup memberikan hadiah kepada anak-anak yang jujur dan tulus, jadi sang juara itu adalah mereka para murid yang jujur dan tulus menjalani tugas-tugas mereka sebagai penuntut ilmu.
Betapa banyak orang yang
sholeh ahli ibadah berakhir dengan sad andding, tapi tak jarang pula ada
yang yang ahli maksiat hingga di penghujung hayatnya ia mampu mengarahkan kemudinya
untuk berlabuh ke pulau keridhaan Allah SWT.
Semoga perjalanan setiap
kita sebagai para murid, berakhir dengan happy andding, husnul khotimah,
dan keridhoan Allah SWT:
(Ya Allah) Tuhan Pencipta langit dan
bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam
keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan golongan orang-orang yang saleh. (QS.
Yusuf [12]: 101)
فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
(Ya
Allah) Tuhan Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia
dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku
dengan golongan orang-orang yang saleh. (QS. Yusuf [12]: 101)- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2012/08/10/22306-doa-agar-dikaruniai-husnul-khatimah.html#sthash.dJonQeCP.dpuf
فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنْتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ
(Ya
Allah) Tuhan Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia
dan di akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku
dengan golongan orang-orang yang saleh. (QS. Yusuf [12]: 101)- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2012/08/10/22306-doa-agar-dikaruniai-husnul-khatimah.html#sthash.dJonQeCP.dpuf
”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan
sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa
dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah
beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang
memperdayakan”. (QS Ali Imran [3] : 185)



2 komentar:
nice artikel...perdana berkunjung nih :)
makasih buk ana, kritk dan sarannya yang membangun, biar makin kece..
Tinggalkan Komentar anda ya,