Recent Posts

Jumat, 10 Oktober 2014

0 komentar

Asyiknya pacaran Sehat




Lagi ramai sekali nih di dunia persilatan lidah media social tentang salah satu buku  Pendidikan Jasmani dan Kesehatan SMA/MA/SMK kelas XI terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan semester ganjil. Di halaman 128-129 buku tersebut membahas mengenai pacaran yang sehat.
Tak dapat terlepas dari pokok persoalan itu, yang menjadi pertanyaan besar dibenak para pemerhati pendidikan Islam adalah, apa korelasi gambar lelaki berpeci dan wanita berjilbab gondrong itu menjadi ilustrasi dari propaganda ini, apakah pacaran itu bisa menjadi sehat bila sang lelaki menggunakan peci dan yang perempuan mengenakan jilbab besar?

Baiklah kita preteli satu-persatu dari ungkapan judul besar kita, kata yang menjadi trending topiknya adalah Pacaran, secara umum dipahami bahwa pacaran adalah sebuah jenjang proses hubungan lawan jenis sebelum memasuki pernikahan, dalam prakteknya banyak ditemui fenomena yang negative, pengaruh buruk yang ditimbulkan dari proses ini.
Waktu aku SMP, aku sudah nemu buku manis dari seorang ustadz yang gak pernah kusangka pernah mendampinginya dalam sebuah seminar pra nikah, buku yang kubeli dan yang kubaca serius itu berjudul “Nikmatnya Pacaran Setelah Nikah”, dari judulnya saja sudah dapat disimpulkan kalau pacran yagn halal itu ya pacaran yang dilakukan setelah sah menikah, diluar itu dikategorikan sebagai tindakan menyimpang dalam pandangan Islam.
Kalau ada yang nanya gini, “Trus gimana kalau kita mau kenal betul dengan calon kita tanpa pacaran, padahal kan dalam pacaran itu kita bisa kenal lebih dekat dengan dia, tau kebiasaannya?”, aku males nanggepinnya, sebenarnya sudah banyak korban pacaran ketimbang pasangan yang sukses membina rumah tangga dengan didahului proses pacaran, namun sudah banyak pasangan nikah yang produktif menghasilkan anak-anak yang berprestasi dengan tanpa pacaran sebelum nikah, lantas apa yang bisa membuat mereka sedemikian menginspirasi?
Aku berada dalam sebuah komunitas yang kader-kadernya senantisa berusaha untuk menjaga semangat kesalihan pribadi dan social, dalam etika berjamaah dalam komnitas ini, telah diatur cara untuk menjalani proses pernikahan, untuk mengenali calon, pendamping hidup, maka para kader harus melalui tahap ta’aruf, tahap ini sebaiknya haru dibicarakan lebih lanjut kepada mr, agar tidak terkesan neko-neko dan banyak cerita dan gaya dalam proses ini.
Ya, akhirnya aku tak sanggup lagi nak berpanjang lebar, sebab dah jelas aku sepakat dengan pacaran sehat, bila pacaran sehat itu dilakukan dan dikerjakan dan dieksekusi setelah akad nikah sah. Wallahu ‘alam.

0 komentar:

Tinggalkan Komentar anda ya,

Best viewed on firefox 5+

like

follow me

CAHAYA HATI

Copyright © Design by Dadang Herdiana