Asyiknya pacaran Sehat
Lagi
ramai sekali nih di dunia persilatan lidah media social tentang salah satu buku
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan
SMA/MA/SMK kelas XI terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan semester
ganjil. Di halaman 128-129 buku tersebut membahas mengenai pacaran yang sehat.
Tak dapat
terlepas dari pokok persoalan itu, yang menjadi pertanyaan besar dibenak para
pemerhati pendidikan Islam adalah, apa korelasi gambar lelaki berpeci dan
wanita berjilbab gondrong itu menjadi ilustrasi dari propaganda ini, apakah
pacaran itu bisa menjadi sehat bila sang lelaki menggunakan peci dan yang
perempuan mengenakan jilbab besar?
Baiklah
kita preteli satu-persatu dari ungkapan judul besar kita, kata yang menjadi trending
topiknya adalah Pacaran, secara umum dipahami bahwa pacaran adalah sebuah
jenjang proses hubungan lawan jenis sebelum memasuki pernikahan, dalam
prakteknya banyak ditemui fenomena yang negative, pengaruh buruk yang
ditimbulkan dari proses ini.
Waktu
aku SMP, aku sudah nemu buku manis dari seorang ustadz yang gak pernah kusangka
pernah mendampinginya dalam sebuah seminar pra nikah, buku yang kubeli dan yang
kubaca serius itu berjudul “Nikmatnya Pacaran Setelah Nikah”, dari judulnya
saja sudah dapat disimpulkan kalau pacran yagn halal itu ya pacaran yang
dilakukan setelah sah menikah, diluar itu dikategorikan sebagai tindakan
menyimpang dalam pandangan Islam.
Kalau
ada yang nanya gini, “Trus gimana kalau kita mau kenal betul dengan calon kita tanpa
pacaran, padahal kan dalam pacaran itu kita bisa kenal lebih dekat dengan dia,
tau kebiasaannya?”, aku males nanggepinnya, sebenarnya sudah banyak korban
pacaran ketimbang pasangan yang sukses membina rumah tangga dengan didahului
proses pacaran, namun sudah banyak pasangan nikah yang produktif menghasilkan
anak-anak yang berprestasi dengan tanpa pacaran sebelum nikah, lantas apa yang
bisa membuat mereka sedemikian menginspirasi?
Aku berada
dalam sebuah komunitas yang kader-kadernya senantisa berusaha untuk menjaga
semangat kesalihan pribadi dan social, dalam etika berjamaah dalam komnitas
ini, telah diatur cara untuk menjalani proses pernikahan, untuk mengenali
calon, pendamping hidup, maka para kader harus melalui tahap ta’aruf, tahap
ini sebaiknya haru dibicarakan lebih lanjut kepada mr, agar tidak terkesan
neko-neko dan banyak cerita dan gaya dalam proses ini.
Ya,
akhirnya aku tak sanggup lagi nak berpanjang lebar, sebab dah jelas aku sepakat
dengan pacaran sehat, bila pacaran sehat itu dilakukan dan dikerjakan dan
dieksekusi setelah akad nikah sah. Wallahu ‘alam.



0 komentar:
Tinggalkan Komentar anda ya,