Membaca Perangai Anak Kita.
"Babi kau,
anjing!!!"
Kata-kata kasar ini melunjur
begitu saja dari salah seorang anak lelaki yang cukup kukenal kebaikannya,
wajahnya menjadi beringas, nafasnya tersengal-sengal, dikedua belah pipi
mengalir air mata, seorang ustadz menahan amarahnya, apapun bisa terjadi dengan
sebilah kayu kecil tajam di tangannya, saya terdiam melihat pemandangan itu,
tercengang, lebih tepatnya "Spechless" bak kata anak muda zaman
sekarang.
Bila ditilik dari sudut pandang
orang dewasa, masalah yang memicu kemarahan anak tadi sangatlah sepele, salah
seorang dari dua anak bertengkar gara-gara beberapa mainan kayu mereka yang
berbentuk seperti tangkai eskrim itu mengurang, sedangkan yang dituduh tidak
merasa mengambilnya, hingga terjadilah pemukulan yang hebat dan saling berbalas-balasan,
untung segera direlai oleh seorang ustadz, dan saya berfikir, hal apa yang
membuat anak ini bisa mengatakan kata-kata kasar sekali, seperti anak yang
liar, padahal sejatinya saya tahu betul latarbelakang pendidik pada ibu dan
ayahnya, ditambah lagi dia berada di sekolah yang cukup berwarna dengan
nilai-nilai ke Islaman? mengapa?
Tak hanya kasus itu saja, ini
cerita yang lain tapi dalam satu kasus yang sama,
Setiap sabtu, saya bertugas
untuk mengisi ekskul kaligrafi, lebih tepatnya mewarnai kaligrafi, baru saja
saya mengucapkan salam pembuka kelas, tiba-tiba dua orang anak saling memukul,
menangis sejadi-jadinya, dengan cukup panik (karena masih guru baru) saya
hilling mereka berdua keluar kelas, saya pegang mereka berdua, yang saling berupaya
memukul meskipun sudah ditahan, tak cukup dari itu, kata-kata kotor, carut, dan
nama binatang berkaki empat acapkali mereka berdua ucapkan, kenapa coba?
seingat saya dulu, kalau saya ngucapkan binatang itu saja, orang tua pasti akan
memberikan sanksi, sampai saya menjaga betul, hingga dewasa sekarang ini, tapi
anak-anak ini kenapa? siapa yang telah mengotori lidah mereka? sehingga dengan
mudahnya meluncur kata-kata kotor itu? dan mengapa mereka begitu emosional,
mereka terus saya tahan hingga mereka menyerah, dan tak lagi beremosi ingin
saling menyakiti ?
"Bagaimana sudah puas
kalian?" saya bertanya kepada keduanya yang sekarang tertunduk lemas.
Kejadian ini terjadi karena mereka saling ejek hingga berantem.
Saya jadi berfikir jauh tentang
banyaknya beberapa kejadian kriminal yang dilakukan oleh siswa, dan itu tak
terbaca oleh orang tua dan guru gejala-gejala dari keanehan sikap anak-anaknya,
seandainya itu terjadi kemungkinan besar bisa dihindari, contoh beberapa kasus
kriminal yang acapkali disiarkan di media informasi tentang pelajar yang tega
membunuh temannya hanya gara-gara hal yang sepele. atau kejahatan pelajar
lainnya.miris sekali.
Lalu pda tanggal 9 oktober 2014,
di Batam Pos memberitakan tentang Pelajar SMP di Tanjungpinang yang Nonton Bareng
Film porno di Sekolahnya.
Dugaan awalnya adalah, media
informasi yang begitu bebas diakses oleh anak kita, anak SD sekarang sudah
diperkenankan orangtuanya untuk membawa andorid dan hp canggih lainnnya, yang
namanya arus negatif selalu ada disamping kita, pak kata yang pernah saya
baca," Pornografi itu seperti kecap di kedai bakso, hanya pelangkap saja,
tapi selalu ada, siapapun bisa menambahkan ke mangkuknya kalau kurang asin,
atau kurang manis, atau kurang pedas. Begitu juga Pornografi kalau kita buka
situs-situs yang baik, ada saja dia nyelip-nyelip di sudut laptop atau android
kita, yah kalau tak kuat iman bisa terbawa arus, kelik satu, klik dua kali
sampai terus terbawa oleh rasa penasaran ingin membuka "hal-hal yang
ditutup tidak sempurna itu".
Para guru dan orangtua mestinya
peka mencium kejanggalan yang dinampakkan anak-anak kita. Maraknya
kekerasan murid diberbagai sekolah belum bisa dijawab oleh guru, mereka
serign menjawab dengan frase tidak tahu, kalimat yang mencerminkan mereka tidak
benar-benar memahami anak didik mereka.
" Kalau disekolah anaknya
baik-baik saja" ini adalah jawaban yang menyatakan bahwa guru kurang peka
terhadap prilaku anak. (Bersambung...)


0 komentar:
Tinggalkan Komentar anda ya,