Recent Posts

Kamis, 16 Oktober 2014

0 komentar

Membaca Perangai Anak Kita.



"Babi kau, anjing!!!" 
         Kata-kata kasar ini melunjur begitu saja dari salah seorang anak lelaki yang cukup kukenal kebaikannya, wajahnya menjadi beringas, nafasnya tersengal-sengal, dikedua belah pipi mengalir air mata, seorang ustadz menahan amarahnya, apapun bisa terjadi dengan sebilah kayu kecil tajam di tangannya, saya terdiam melihat pemandangan itu, tercengang, lebih tepatnya "Spechless" bak kata anak muda zaman sekarang.
           Bila ditilik dari sudut pandang orang dewasa, masalah yang memicu kemarahan anak tadi sangatlah sepele, salah seorang dari dua anak bertengkar gara-gara beberapa mainan kayu mereka yang berbentuk seperti tangkai eskrim itu mengurang, sedangkan yang dituduh tidak merasa mengambilnya, hingga terjadilah pemukulan yang hebat dan saling berbalas-balasan, untung segera direlai oleh seorang ustadz, dan saya berfikir, hal apa yang membuat anak ini bisa mengatakan kata-kata kasar sekali, seperti anak yang liar, padahal sejatinya saya tahu betul latarbelakang pendidik pada ibu dan ayahnya, ditambah lagi dia berada di sekolah yang cukup berwarna dengan nilai-nilai ke Islaman? mengapa?

           Tak hanya kasus itu saja, ini cerita yang lain tapi dalam satu kasus yang sama,
Setiap sabtu, saya bertugas untuk mengisi ekskul kaligrafi, lebih tepatnya mewarnai kaligrafi, baru saja saya mengucapkan salam pembuka kelas, tiba-tiba dua orang anak saling memukul, menangis sejadi-jadinya, dengan cukup panik (karena masih guru baru) saya hilling mereka berdua keluar kelas, saya pegang mereka berdua, yang saling berupaya memukul meskipun sudah ditahan, tak cukup dari itu, kata-kata kotor, carut, dan nama binatang berkaki empat acapkali mereka berdua ucapkan, kenapa coba? seingat saya dulu, kalau saya ngucapkan binatang itu saja, orang tua pasti akan memberikan sanksi, sampai saya menjaga betul, hingga dewasa sekarang ini, tapi anak-anak ini kenapa? siapa yang telah mengotori lidah mereka? sehingga dengan mudahnya meluncur kata-kata kotor itu? dan mengapa mereka begitu emosional, mereka terus saya tahan hingga mereka menyerah, dan tak lagi beremosi ingin saling menyakiti ? 
"Bagaimana sudah puas kalian?" saya bertanya kepada keduanya yang sekarang tertunduk lemas. Kejadian ini terjadi karena mereka saling ejek hingga berantem.

              Saya jadi berfikir jauh tentang banyaknya beberapa kejadian kriminal yang dilakukan oleh siswa, dan itu tak terbaca oleh orang tua dan guru gejala-gejala dari keanehan sikap anak-anaknya, seandainya itu terjadi kemungkinan besar bisa dihindari, contoh beberapa kasus kriminal yang acapkali disiarkan di media informasi tentang pelajar yang tega membunuh temannya hanya gara-gara hal yang sepele. atau kejahatan pelajar lainnya.miris sekali.

Lalu pda tanggal 9 oktober 2014, di Batam Pos memberitakan tentang Pelajar SMP di Tanjungpinang yang Nonton Bareng Film porno di Sekolahnya.

             Dugaan awalnya adalah, media informasi yang begitu bebas diakses oleh anak kita, anak SD sekarang sudah diperkenankan orangtuanya untuk membawa andorid dan hp canggih lainnnya, yang namanya arus negatif selalu ada disamping kita, pak kata yang pernah saya baca," Pornografi itu seperti kecap di kedai bakso, hanya pelangkap saja, tapi selalu ada, siapapun bisa menambahkan ke mangkuknya kalau kurang asin, atau kurang manis, atau kurang pedas. Begitu juga Pornografi kalau kita buka situs-situs yang baik, ada saja dia nyelip-nyelip di sudut laptop atau android kita, yah kalau tak kuat iman bisa terbawa arus, kelik satu, klik dua kali sampai terus terbawa oleh rasa penasaran ingin membuka "hal-hal yang ditutup tidak sempurna itu".

            Para guru dan orangtua mestinya peka mencium kejanggalan yang dinampakkan anak-anak kita. Maraknya kekerasan  murid diberbagai sekolah belum bisa dijawab oleh guru, mereka serign menjawab dengan frase tidak tahu, kalimat yang mencerminkan mereka tidak benar-benar memahami anak didik mereka. 
" Kalau disekolah anaknya baik-baik saja" ini adalah jawaban yang menyatakan bahwa guru kurang peka terhadap prilaku anak. (Bersambung...)


0 komentar:

Tinggalkan Komentar anda ya,

Best viewed on firefox 5+

like

follow me

CAHAYA HATI

Copyright © Design by Dadang Herdiana