Destinasi Hati (Bagian 1)
Pemuda
itu menadah gemericik air yang terpancar dari keran, ia biarkan air mengalir di
wajah, pada sesempurna anggota whudhunya. Ia membuka hidup dengan subuh
berjamaah di masjid, wajahnya tetap datar seperlunya, tetap tenang secukupnya,
dan tersenyum untuk mereka yang kebetulan berpapasan. Dalam hati ia menanti
kabar, kabar yang akan menuntaskan jihad rindu, segala
tanda tanya, yang selama ini begitu menggelayuti hati.
Dalam taubat,
pada sujud doa, dengan marwah yang terjaga, ia sembunyi dari mengumbar
aurat hati. Tidak begitu rapi, namun setakat yang ia mampu, ia akan
menjaga, hingga takdir berkata iya pada sebuah destinasi hati. Dengan bersabar
ia mulai menata, membujuk hati supaya duduk diam pada singgah sana
ketulusan, mengenakan mahkota keikhlasan.
Tanjungpinang, Ahad, 15 Februari 2015
Ba’da
Isya, kala gelap benar-benar meranum harum, hembuskan embun pada epidermis
setiap makhluk-Nya, atas titah lub terdalam yang memar merindu, langkah
kakinya mantap menuju pintu keberkahan.
Sebuah amplop
putih berukuran sedang, ia bawa dengan tangan kanan, hingga langkah terhenti
pada pintu keberkahan itu, sejurus kemudian seorang tegap bertubuh gagah
membuka pintu, menyambutnya dengan tangan terbuka, seolah teduh berkata “
Selamat datang dipintu cinta, yang ditempuh para pejuang, beginilah jalan cinta
para pejuang, semoga keberkahan menaungi rindumu” Sang Murobbi.
Tanjungpinang,
Ahad, 8 Februari 2015
Kantuk
semena-mena memaksa mata untuk merebah, tapi kajian wajib mingguan itu belum
tuntas sempurna, butuh sedikit lagi kesabaran untuk menuntaskannya. Setelah tuntas
lalu diakhir sesi sang Murobbi memberikan format proposal itu, proposal yang ia
isi dengan tangan gemetar, terburu-buru, bahkan lupa dengan apa yang harus ia
isi selain kesederhanaan hati; tak ada yang harus ia tutupi, apalagi dengan melebih-lebihkannya.
Nawaitu bismillah lillah, ia tutup proposal itu dengan sebentuk amplop putih berniat;
semoga istiqomah hingga kepenguhujung hayat.



0 komentar:
Tinggalkan Komentar anda ya,