Recent Posts

Selasa, 27 Januari 2015

0 komentar

Belajar Setia



PADA kehadiran tak dilambai dan tanpa berbau, gadis 24 tahun itu telahpun menyusun kata cerita teruntuk Nurmala, perawan yang berkaca pada sepuhan cahayanya  meredup kala senja merangkak, selalu menyukai jalan tenang bersulam sepi di terminal penantian. Kesendirian yang sudah renta berlumut, hampir 25 tahun lamanya.

Namun perempuan itu berkerut masih perpusing-pusing mencari alasan yang tepat untuk menerima kehadiran seorang asing. Gadis itu mengatur duduknya, berupaya tampil tak bergejolak, seakan telah menenangkan hati atas setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Ia bertutur tentang lamanya ia bertanya-tanya di hampir setiap daun pintu yang terbuka bersedia ia tanya tentang perawan itu. Jadi, teramat tak mungkin pabila ia berpatah kemudi pulang  tanpa tuntas hajat dilepas.
Saya bertolak membawa hajat dari Kundur, sebuah Kabupaten yang tercerai-berai dari daratan Kepri, tuturnya. Namun apalah arti sebuah tempat bagi kedatangan yang tiba semena-mena. Nurmala menuli, seolah tak mendengarnya. Bagi si gadis pula, itu merupakan sinyal menarik. Apalagi perempuan itu kemudian membuka daun pintu lebih lebar lantas mengizinkannya naik.
Waw, kemerlip warna-warni di sepanjang jalan tujuannya mulai menyerla.
Namun, baru saja ia duduk di kursi rotan tua dalam rumah papan itu, perempuan itu sudah mengejutkannya. “Namamu Zakiyyah Nirmala,” begitu gumamnya. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Dan, ia sepertinya memang tak memerlukan jawaban. Ia hanya menatap si gadis tanpa selidik. “Aku tak pernah menyangka pada pertemuan ini mimpiku akan jadi nyata.” Lalu ia berlalu ke belakang, menyeka tirai berdebu yang setia kering menunggu.
Gadis itu sunyi senyap. Pandangnya lekat pada punggung si perempuan yang hilang di balik bilik.
“Sudah puluhan tahun, ada debu yang selalu membuat mataku kedutan, merlukis kelebatan bayanganmu tak sekedar hadir dalam mimpi-mimpiku. Seorang gadis manis bernama Zakiyyah Nirmala akan datang dalam waktu dekat.” Suara Nurmala terdengar jelas dari balik bilik kayu itu. Sesekali bunyi sendok yang beradu dengan cangkir sayup menggelitik gendang telinga. “Namamu hampir mirip dengan namaku. Aku tak tahu kapan dan di mana namamu pernah kuakrabi. Ah biarlah, namanya juga mimpi, kadang tak kuasa dicerna nalar.” Perempuan itu sudah kembali menerobos tirai dengan secangkir teh hangat di tangan kirinya. “Tapi mimpi kali ini, bagaimanapun, rasanya ada yang lain.” Ia meletakkan cangkir teh itu di atas meja lalu duduk di kursi rotannya. “Minumlah. Tamu adalah raja. Apalagi tamu dari alam mimpi.” Ia tertawa kecil, seperti mengejek kata-katanya sendiri.
Gadis itu menyimpul senyuman. Tangan kanannya membetulkan bentuk kain kerudungnya yang meluruh.
“Di zaman sekarang, mimpi yang benar-benar mengisyaratkan sebuah kejadian sudah langka. Mimpi tak lebih sebagai perpanjangan kehendak seseorang; apa-apa yang tidak atau belum mampu diraih di alam nyata, ia bawa ke dalam tidurnya. Mimpi yang begitu, yang disebut bunga tidur, mimpi yang tak berguna!”
“Lalu untuk apa seseorang dalam mimpi itu mendatangimu?” tanya gadis itu setelah meneguk teh hangat itu.
Nurmala menggeleng. “Tapi… bukannya, kau ingin bercerita?”
                            ***
Syahdan, seorang laki-laki mengungkapkan rahasia terbesar dalam hidupnya.
Ketika masih muda, ia menjalin hubungan dengan seorang gadis. Pemuda itu ingin mempersembahkan kejutan kepada gadisnya dengan meminangnya tiba-tiba. Benar! Apa yang ia lakukan memang mengejutkan. Pinangannya ditolak. O, bagaimana ia lupa kalau seseorang yang lahir, tinggal, dan berdikari di Tanjungpinang, desa parit seratus yang hidup dari menyadap karet dan memetik palawija, taklah sepadan pabila berdiri di atas anak tangga yang sama dengan gadis keturunan Arab Hindia berada.
Tercorenglah keluarga besar sang pemuda. Betapa malunya. Sang gadis benar-benar kecewa dengan apa yang keluarganya perbuat. Ia memang menyesalkan tingkah kekasihnya yang tiba-tiba datang dengan 20 orang sanak kerabat, 12 nampan berisi bejek ketan hitam, 6 tandan pisang tanduk, dan sepikul beras dayang rindu. Namun, sungguh, semuanya menguap dan menjadi tak berarti bila dibandingkan dengan ketakterimaannya atas kepongahan keluarganya. 

Maka, lewat seorang pesuruh yang setia, ia mengirimkan sepucuk surat kepada si pemuda. Ternyata maksud tak selamanya selaras dengan kenyataan. Surat yang dilemparkan si pesuruh—sebagaimana amanah si gadis—lewat daun jendela kamar si pemuda, tertangkap pandang oleh ayah si pemuda.

Sebuah rencana pembalasan pun disiapkan. Sang ayah tak pernah menyampaikan surat itu kepada putranya. Bahkan, hingga putranya ia jodohkan dengan seorang perempuan yang masih berkerabat jauh satu tahun kemudian.
 
Ia tahu, putranya menerima begitu saja karena kecewa pada kekasihnya yang tiada kabar berita setelah pengusiran itu. Bagi si pemuda, peristiwa memalukan itu bagai menegaskan bahwa gadis itu sengaja menjauh darinya, melepas hubungan yang sudah sekian lama dikebat….

Istrinya, karena tak kuat menjadi pajangan yang hanya digauli di malam punai, akhirnya meradang kerontang berkepanjangan. Sebenarnya, tiadalah si pemuda bermaksud demikian. Namun, alam bawah sadar bagai menuntunnya untuk melakukan hal-hal yang bukan tabiatnya. Mereka tak ubahnya dua orang asing yang dirumahkan. Tanpa sapa, canda, apalagi cerita mesra. Entah karena ajal yang sudah tiba atau rajaman kenelangsaan, sang istri meregang nyawa beberapa hari seusai melahirkan anak pertama; Gadis manis Zakiyyah Nurmala.
Suaminya membesarkan putri semata wayangnya sendirian. Ia ingin membuktikan kepada ayahnya yang sudah renta bahwa cintanya kepada gadis Suka Tenang itu tak akan luruh hingga kapan pun, oleh apa pun. Awalnya sang ayah tak mengacuhkan. Namun, mendapati kenyataan bahwa putranya mampu hidup sendirian sembari membesarkan cucunya hingga Gadis, adalah tamparan keras baginya. Ia terenyuh. Sungguh, sebenarnya ia benci pada ketaklukannya. Namun begitu, sejatinya ia lebih benci lagi pada keegoisannya yang berlumut dan baru terkikis setelah hampir seperempat abad kemudian—walaupun ia jua takkan lupa kesombongan keluarga si gadis.
Maka, pada suatu malam yang temaram, di ujung sakit tersebab usia yang berkarat, ia membuka rahasia itu. Tentang surat itu yang tak pernah ia beritakan kepada putranya.

                          ***
“Simpang Teluk Ketapang —ibu kota Kepulauan?” Tiba-tiba perempuan itu menyela.
Gadis itu berkaca mengangguk.
“Petang?” Gadis itu mengangguk lagi.
“Jadi surat itu tak pernah dibacanya? Apakah Ayahmu itu tahu bahwa, hingga saat ini, perempuannya ini masih melajang?”
Gadis itu diam.
“… dan hidup sebatang kara karena keluarganya tak sudi punya anak pembangkang, tak sudi serumah dengan gadis yang mencintai pemuda tak sepadan.”
Tiba-tiba perempuan itu bangkit dari tempat duduknya. “Mengapa, mengapa ceritamu….”
“Ya, mungkin Ibu heran mengapa ceritaku sangat mirip dengan kisah hidup Ibu, bukan? Ibu pernah tinggal di Teluk Ketapang?”
“Jangan sok tahu!” Suara Nurmala meninggi.
“Bukannya Ibu yang sok tahu?” Gadis itu balas berseru. “Ibu sok tahu kalau gadis dalam ceritaku masih melajang hingga kini!”
Nirmala tercenung seperti terhenyak. Lalu perlahan ia kembali duduk. “Ternyata penantianku adalah panggilan tanpa bunyi dan jawaban.” Suaranya terdengar lempang tanpa gairah. Matanya memerah.
“Penantian? Menantikan laki-laki dalam ceritaku?” Suara gadis itu lirih, hampir tak terdengar.
Nurmala tak menjawab. Hanya air matanya yang tiba-tiba meleleh.
“Menantikan Karang?” Suara gadis itu bagai tercekat.
“Dan kau adalah Zakiyyah Nimala.” Suara Nurmala memarau. Ada senyum tipis, sangat tipis, menggurat di bibir perempuan itu. Ia menyeka air matanya dengan ujung baju katunnya.
“Bukan!” tukas gadis itu cepat. “Aku….”
“Ya, bukan hanya itu!” potong Nurmala tak kalah cepat. “Zakiyyah Nirmala adalah buah perkawinan Karang dengan Rahayu yang tak berumur lama itu.”
Mulut gadis itu terkunci.
“Dan gadis Suka Tenang itu adalah Cahaya Nirmala  binti Seman Ibrahim, kan?!”
Gadis itu tiba-tiba merasa kerongkongannya menyempit.
Perempuan itu kini tersenyum, benar-benar tersenyum. “Terima kasih atas ceritamu. Ayahmu memang pujangga ulung. Untuk menjelaskan semua keganjilan masa silam kami, ia bahkan merasa perlu mengutusmu untuk bertandang dalam mimpi-mimpiku sebelum akhirnya hadir di hadapanku.”
Gadis itu tersenyum, senyum yang lebih mirip seringaian.
“Aku tidak marah pada Karang. Tak ada guna. Aku bahkan memaklumi perkawinan itu. Cinta yang tulus adalah tinta daun bilau yang menetes di kain kafan, nodanya takkan terkelupas apalagi terhapus oleh air hujan sekalipun. O ya, sampaikan pada ayahmu: ‘Ada salam dariku’.”
Gadis itu bangkit dari tempat duduknya. Sebenarnya ia ingin menjelaskan kalau namanya bukan Zakiyyah Nurmala. Tapi hal itu menjadi tidak penting lagi ketika mendapati kenyataan yang begitu menggetarkan: seorang perempuan rela melajang hingga usianya merayap separuh abad.
Gadis itu mencium punggung tangan Cahaya Nurmala dengan takzim, seolah tengah mengucapkan selamat tinggal kepada ibu kandungnya, untuk membawa kabar gembira nan memilukan ke deretan rapi pohon karet parit seratus lalu menyampaikannya kepada Karang. Kepada ayahnya. (*)


dari Cerpen Benny Arnas. (Maaf untuk belajar nulis abangda Benny Arnas, saya sangat mengagumi cara abangda bertutur dalam sajak) 

Linggau, Agustus-Desember 2012
Benny Arnas, mengelola Benny Institute di Lubuk Linggau, Sumsel. Buku terkininya Bulan Celurit Api (2010) dan Jatuh dari Cinta (2011).

0 komentar:

Tinggalkan Komentar anda ya,

Best viewed on firefox 5+

like

follow me

CAHAYA HATI

Copyright © Design by Dadang Herdiana