Belajar Setia
PADA
kehadiran tak dilambai dan tanpa berbau, gadis 24 tahun itu telahpun
menyusun kata cerita teruntuk Nurmala, perawan yang berkaca pada sepuhan cahayanya meredup kala senja merangkak, selalu
menyukai jalan tenang bersulam sepi di terminal penantian. Kesendirian yang sudah renta berlumut, hampir 25 tahun lamanya.
Namun perempuan itu berkerut masih perpusing-pusing mencari alasan yang tepat untuk menerima
kehadiran seorang asing. Gadis itu mengatur duduknya, berupaya tampil tak bergejolak, seakan telah
menenangkan hati atas setiap kemungkinan yang bakal terjadi. Ia bertutur tentang lamanya ia bertanya-tanya di hampir setiap daun pintu yang terbuka bersedia ia tanya tentang perawan itu. Jadi, teramat tak mungkin pabila ia berpatah kemudi pulang tanpa tuntas hajat dilepas.
Saya bertolak membawa hajat dari Kundur, sebuah Kabupaten yang tercerai-berai dari daratan Kepri, tuturnya. Namun apalah arti
sebuah tempat bagi kedatangan yang tiba semena-mena. Nurmala menuli, seolah tak mendengarnya. Bagi si gadis pula, itu merupakan sinyal menarik. Apalagi perempuan itu kemudian membuka daun pintu lebih lebar lantas mengizinkannya naik.
Waw, kemerlip warna-warni di sepanjang jalan tujuannya mulai menyerla.
Waw, kemerlip warna-warni di sepanjang jalan tujuannya mulai menyerla.
Namun,
baru saja ia duduk di kursi rotan tua dalam rumah papan itu, perempuan itu
sudah mengejutkannya. “Namamu Zakiyyah Nirmala,” begitu gumamnya. Intonasinya datar
sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Dan, ia sepertinya memang tak
memerlukan jawaban. Ia hanya menatap si gadis tanpa selidik. “Aku tak pernah menyangka pada pertemuan ini mimpiku akan jadi nyata.” Lalu ia berlalu ke belakang, menyeka tirai berdebu yang setia kering menunggu.
Gadis itu sunyi senyap. Pandangnya lekat pada punggung si perempuan yang hilang di balik bilik.
“Sudah
puluhan tahun, ada debu yang selalu membuat mataku kedutan, merlukis kelebatan bayanganmu tak sekedar hadir dalam mimpi-mimpiku. Seorang gadis manis bernama Zakiyyah Nirmala akan datang dalam waktu dekat.” Suara Nurmala
terdengar jelas dari balik bilik kayu itu. Sesekali bunyi sendok yang beradu
dengan cangkir sayup menggelitik gendang telinga. “Namamu hampir mirip dengan namaku. Aku tak tahu kapan dan di mana namamu pernah kuakrabi.
Ah biarlah, namanya juga mimpi, kadang tak kuasa dicerna nalar.” Perempuan itu sudah
kembali menerobos tirai dengan secangkir teh hangat di tangan kirinya. “Tapi
mimpi kali ini, bagaimanapun, rasanya ada yang lain.” Ia meletakkan cangkir teh
itu di atas meja lalu duduk di kursi rotannya. “Minumlah. Tamu adalah raja.
Apalagi tamu dari alam mimpi.” Ia tertawa kecil, seperti mengejek kata-katanya
sendiri.
Gadis itu menyimpul senyuman. Tangan kanannya membetulkan bentuk kain kerudungnya yang meluruh.
“Di
zaman sekarang, mimpi yang benar-benar mengisyaratkan sebuah kejadian sudah
langka. Mimpi tak lebih sebagai perpanjangan kehendak seseorang; apa-apa yang
tidak atau belum mampu diraih di alam nyata, ia bawa ke dalam tidurnya. Mimpi
yang begitu, yang disebut bunga tidur, mimpi yang tak berguna!”
“Lalu
untuk apa seseorang dalam mimpi itu mendatangimu?” tanya gadis itu setelah
meneguk teh hangat itu.
Nurmala menggeleng. “Tapi… bukannya, kau ingin bercerita?”
***
Syahdan,
seorang laki-laki mengungkapkan rahasia terbesar dalam hidupnya.
Ketika
masih muda, ia menjalin hubungan dengan seorang gadis. Pemuda itu ingin mempersembahkan
kejutan kepada gadisnya dengan meminangnya tiba-tiba. Benar! Apa yang ia
lakukan memang mengejutkan. Pinangannya ditolak. O, bagaimana ia lupa kalau
seseorang yang lahir, tinggal, dan berdikari di Tanjungpinang, desa parit seratus yang
hidup dari menyadap karet dan memetik palawija,
taklah sepadan pabila berdiri di atas anak tangga yang sama dengan gadis keturunan Arab Hindia berada.
Tercorenglah
keluarga besar sang pemuda. Betapa malunya. Sang gadis benar-benar kecewa
dengan apa yang keluarganya perbuat. Ia memang menyesalkan tingkah kekasihnya
yang tiba-tiba datang dengan 20 orang sanak kerabat, 12 nampan berisi bejek
ketan hitam, 6 tandan pisang tanduk, dan sepikul beras dayang rindu. Namun,
sungguh, semuanya menguap dan menjadi tak berarti bila dibandingkan dengan
ketakterimaannya atas kepongahan keluarganya.
Maka, lewat seorang pesuruh yang
setia, ia mengirimkan sepucuk surat kepada si pemuda. Ternyata maksud tak
selamanya selaras dengan kenyataan. Surat yang dilemparkan si pesuruh—sebagaimana
amanah si gadis—lewat daun jendela kamar si pemuda, tertangkap pandang oleh
ayah si pemuda.
Sebuah
rencana pembalasan pun disiapkan. Sang ayah tak pernah menyampaikan surat itu
kepada putranya. Bahkan, hingga putranya ia jodohkan dengan seorang perempuan
yang masih berkerabat jauh satu tahun kemudian.
Ia tahu, putranya menerima begitu saja karena kecewa pada kekasihnya yang tiada
kabar berita setelah pengusiran itu. Bagi si pemuda, peristiwa memalukan itu
bagai menegaskan bahwa gadis itu sengaja menjauh darinya, melepas hubungan yang
sudah sekian lama dikebat….
Istrinya,
karena tak kuat menjadi pajangan yang hanya digauli di malam punai, akhirnya
meradang kerontang berkepanjangan. Sebenarnya, tiadalah si pemuda bermaksud demikian.
Namun, alam bawah sadar bagai menuntunnya untuk melakukan hal-hal yang bukan
tabiatnya. Mereka tak ubahnya dua orang asing yang dirumahkan. Tanpa sapa,
canda, apalagi cerita mesra. Entah karena ajal yang sudah tiba atau rajaman
kenelangsaan, sang istri meregang nyawa beberapa hari seusai melahirkan anak
pertama; Gadis manis Zakiyyah Nurmala.
Suaminya
membesarkan putri semata wayangnya sendirian. Ia ingin membuktikan kepada
ayahnya yang sudah renta bahwa cintanya kepada gadis Suka Tenang itu tak akan luruh
hingga kapan pun, oleh apa pun. Awalnya sang ayah tak mengacuhkan. Namun,
mendapati kenyataan bahwa putranya mampu hidup sendirian sembari membesarkan
cucunya hingga Gadis, adalah tamparan keras baginya. Ia terenyuh. Sungguh,
sebenarnya ia benci pada ketaklukannya. Namun begitu, sejatinya ia lebih benci
lagi pada keegoisannya yang berlumut dan baru terkikis setelah hampir
seperempat abad kemudian—walaupun ia jua takkan lupa kesombongan keluarga si
gadis.
Maka,
pada suatu malam yang temaram, di ujung sakit tersebab usia yang berkarat, ia
membuka rahasia itu. Tentang surat itu yang tak pernah
ia beritakan kepada putranya.
***
“Simpang Teluk Ketapang —ibu kota Kepulauan?” Tiba-tiba perempuan itu menyela.
Gadis itu berkaca mengangguk.
“Petang?” Gadis itu mengangguk lagi.
“Jadi
surat itu tak pernah dibacanya? Apakah Ayahmu itu tahu bahwa, hingga saat
ini, perempuannya ini masih melajang?”
Gadis itu diam.
“…
dan hidup sebatang kara karena keluarganya tak sudi punya anak pembangkang, tak
sudi serumah dengan gadis yang mencintai pemuda tak sepadan.”
Tiba-tiba
perempuan itu bangkit dari tempat duduknya. “Mengapa, mengapa ceritamu….”
“Ya,
mungkin Ibu heran mengapa ceritaku sangat mirip dengan kisah hidup Ibu, bukan?
Ibu pernah tinggal di Teluk Ketapang?”
“Jangan
sok tahu!” Suara Nurmala meninggi.
“Bukannya
Ibu yang sok tahu?” Gadis itu balas berseru. “Ibu sok tahu kalau gadis dalam
ceritaku masih melajang hingga kini!”
Nirmala tercenung seperti terhenyak. Lalu perlahan ia kembali duduk. “Ternyata
penantianku adalah panggilan tanpa bunyi dan jawaban.” Suaranya terdengar
lempang tanpa gairah. Matanya memerah.
“Penantian?
Menantikan laki-laki dalam ceritaku?” Suara gadis itu lirih, hampir tak
terdengar.
Nurmala tak menjawab. Hanya air matanya yang tiba-tiba meleleh.
“Menantikan Karang?” Suara gadis itu bagai tercekat.
“Dan
kau adalah Zakiyyah Nimala.” Suara Nurmala memarau. Ada senyum tipis, sangat tipis,
menggurat di bibir perempuan itu. Ia menyeka air matanya dengan ujung baju
katunnya.
“Bukan!”
tukas gadis itu cepat. “Aku….”
“Ya,
bukan hanya itu!” potong Nurmala tak kalah cepat. “Zakiyyah Nirmala adalah buah
perkawinan Karang dengan Rahayu yang tak berumur lama itu.”
Mulut gadis itu terkunci.
“Dan
gadis Suka Tenang itu adalah Cahaya Nirmala binti Seman Ibrahim, kan?!”
Gadis itu tiba-tiba merasa kerongkongannya menyempit.
Perempuan
itu kini tersenyum, benar-benar tersenyum. “Terima kasih atas ceritamu. Ayahmu
memang pujangga ulung. Untuk menjelaskan semua keganjilan masa silam kami, ia
bahkan merasa perlu mengutusmu untuk bertandang dalam mimpi-mimpiku sebelum
akhirnya hadir di hadapanku.”
Gadis itu tersenyum, senyum yang lebih mirip seringaian.
“Aku
tidak marah pada Karang. Tak ada guna. Aku bahkan memaklumi perkawinan itu.
Cinta yang tulus adalah tinta daun bilau yang menetes di kain kafan, nodanya
takkan terkelupas apalagi terhapus oleh air hujan sekalipun. O ya, sampaikan
pada ayahmu: ‘Ada salam dariku’.”
Gadis itu bangkit dari tempat duduknya. Sebenarnya ia ingin menjelaskan kalau namanya
bukan Zakiyyah Nurmala. Tapi hal itu menjadi tidak penting lagi ketika mendapati
kenyataan yang begitu menggetarkan: seorang perempuan rela melajang hingga
usianya merayap separuh abad.
Gadis itu mencium punggung tangan Cahaya Nurmala dengan takzim, seolah tengah mengucapkan selamat
tinggal kepada ibu kandungnya, untuk membawa kabar gembira nan memilukan ke deretan rapi pohon karet parit seratus lalu menyampaikannya kepada Karang. Kepada
ayahnya. (*)
dari Cerpen Benny Arnas. (Maaf untuk belajar nulis abangda Benny Arnas, saya sangat mengagumi cara abangda bertutur dalam sajak)
Linggau,
Agustus-Desember 2012
Benny
Arnas, mengelola Benny Institute di Lubuk Linggau, Sumsel. Buku terkininya Bulan
Celurit Api (2010) dan Jatuh dari Cinta (2011).


0 komentar:
Tinggalkan Komentar anda ya,