Terhentak Hening hatimu
Terlambat menyadari bayangan yang jatuh,
sentuh kening
bergelombang pasrah.
Dipuncak terik,
mengejar magrib yang merayap senyap.
Semilir teduh
di bawah tarian hitam daun akasia simata wayangnya.
Entah mengapa,
mungkin tersebab kau pemilik jelita.
kini mataku terganjal
enggan menatapmu,
bertambah-tambah ia merunduk tersipu, gusar.
Tak mampu mengelak
jumpa di ruang rindu,
terjebak di kamar antara,
antara entah jua naluri.
Biarkan saja
bayang hitam dedaunan akasia,
menari-riang
di kening kita.
Yang membatu
bisu,
resapi teduh.
Cemaskan
senja pemutus rindu,
merayap
bertandang,
sedang kita
berdendang,
tentang hening menggenang.


0 komentar:
Tinggalkan Komentar anda ya,