Kamu
Tatkala
gelap bertandang di kamar sempit ini, kusematkan niatku di langit-langitnya, untuk
melebur namamu, dalam lumuran kata puisiku, dalam singkatnya kesempatanku,
dalam setiap lembar sadarku, dan yang kudapati setakat buaian samudera,
bersampan tanpa kiyau mengapung terombang-ambing, lemas dipelasah resah.
Fatwa
pujangga dan gurindam jiwamu, hanya menuntunku pada istana cinta yang merapal
rapuh, serupa sayatan sendu di hujung sitar, namamu indah tak kuasa kugapai.
Pada
hela nafas zaman yang semaput. Ramai manusia mengepung embun pagi, untuk kemudian diboyong ke ruang-ruang kerja,
tercatat nama dan jam kehadiran mereka, mengumpulkan embun yang di hirup sebulan sekali. Di antara mereka
kau yang paling menyerla, “Hadapi saja” kau pun berlalu, melewati target,
menyelesaikan tugas, hingga kantukmu semena-mena menghianati matamu. semua
gerak katamu, yang tak kau rahasiakan, selalu hadir dalam genangan embun
jantanku, menuju subuh yang tajam
gigilkan tiap persendian.
Banyak
kataku yang kau baca, tapi sulit terpahami, setiap gerak hatiku, itu yang kau
yakini, hanya untukmu.


0 komentar:
Tinggalkan Komentar anda ya,