Gelar
Keberangkatan haji merupakan moment terindah bagi mereka yang bertahun-tahun telah menantinya, ada yang menahun telah menabung hadil jerih payah kerja kerasnya, ada yang rela menjual tanah dan sawahnya, semua itu demi beribadah ketanah suci.
Tetapi banyak hal unik di Indonesia terkait dengan ibadah haji. Pertama terkait haji yang berulang-ulang kali.
Kenapa Fenomena ini saya bilang unik? Bagaimana nggak unik?! Di negeri yang masih sakit ini, ada saja orang yang lebih mementingkan pergi haji untuk kesekian kalinya dibanding membantu sesamanya.
Bagaimana nggak unik. Banyak yang untuk makan saja kesulitan, tapi di tempat lain ada yang bisa ke tanah suci berulangkali. Bukankah ini hal yang timpang?
Kalau kita baca sejarah, Rasulullah berhaji hanya sekali, yakni haji wada' yang dilaksanakan tahun 10 H bersama 100.000 lebih kaum muslimin.
Maka, mari kita mengapresiasi kaum muslimin yang sebenarnya mampu haji berkali-kali, tapi hal itu tidak dilakukan karena mengutamakan membantu sekitarnya.
Hal unik kedua yakni penyebutan gelar haji di depan nama orang yang pulang dari ibadah haji. Ini hal yang aneh.
Tapi ada yang lebih aneh. Apa itu? Yang lebih aneh hampir selurh umat Islam di negeri ini sama-sama menyepakati keanehan itu. Baik rakyatnya, pejabatnya, sampai ulamanya. Jadi aneh berjamaah.
Politikus bela-belaain ketanah suci, biar waktu kampanye bisa pasang gelar Haji Fulan. Kiainya ke tanah suci, ada yang bisa niatnya biar dapat gelar KH Fulan. Kalau niatnya saja sudah separah itu, bagaimana bisa mabrur hajinya? Pantaslah kalau di Indonesia hajinya meningkat, korupsinya tetap tidak turun-turun.
Kok bisa-bisanya ibadah diberi gelar. Kalau kita memberi gelar untuk pengamal haji, sekalian saja beri gelar pada pengamal ibadah-ibadah yang lain. Shalat, puasa, zakat. Sekalian saja sebut semua: Mushalli Muzakki Shaim Haji Fulan. Disingkat jadi M.M.S.H. Fulan. Kan malah lucu jadinya? Lucu berjamaah.
Apapakah nggak boleh menebut gelar haji di depan nama pengamal ibadah haji? ini bukan boleh atau tidak boleh. Hanya saja, sungguh ini hal lucu. Tak semua yang boleh itu baik.
Pertanyaanya, apa gunanya mencantumkan gelar haji?
apa? Hampir tak ada relevansinya sama sekali.
Semoga ini sedikit renungan agar haji yang telah, sedang, akan atau belum sempat kita laksanakan, niatnya diluruskan oleh Allah.
Kata Tere Liye,
" Kenapa orang2 mencantumkan gelar Haji, padahal mereka tidak mencantumkan gelar: Syahadat, Shalat, Puasa dan Zakat? Kan keren kalau nama saya jadi H. Tere Liye, S, Sh, P, Z. Kenapa orang2 mencantumkan gelar sarjana, master, doktor, padahal mereka tidak mencantumkan gelar: TK, SD, SMP dan SMA? Kan keren kalau nama saya jadi Tere Liye TK, SD, SMP, SMA, S1, S2 dan S3?"
" Itu semua pilihan masing-masaing, percayalah, kemuliaan hidup ini tidak pernah tertukar hanya gara-gara gelar. Dan kita sebenarnya tahu mana yang lebih baik dilakukan, mana yang tidak"
sekali lagi, tak ada dampak yang kita terima jika tidak mencantumkan gelar, selain bisa mengganggu keihklasan hati dalam beribadah, dalam berbuat, kan kita sudah tahu toh, kalau setiap tindak tanduk kita hanya karena Allah SWT?
Terkiat gelar juga, sering nih kita lihat banyak gelar di undangan pernikahan, itu mau nikah apa nyari beasiswa? hehehe...
Yuk sudahlah kita berdamai saja, kita berdamai dengan keegoan, dengan memperbaiki kualitas diri tanpa perlu bernarsis ria dengan gelar, kalau kualitas diri sudah baik, Insha Allah kita akan lebih dihargai ketimbang mereka yang gelarnya berjejer, tapi kualitas mental dan moralnya sangat jongkok. Naudhzu billah, tsumma naudzubillah
[Hati Ahmad Rifai Rifan]


2 komentar:
Keren Pak
terimakasih kunjungannya :)
Tinggalkan Komentar anda ya,