Recent Posts

Kamis, 14 Mei 2015

0 komentar

Pelantar Usang Sungai Carang



 Sungai-Carang-1-F,Yusnadi
Dia menghirup begitu dalam susasana hutan bakau itu, tampak hijau namun sebenarnya menyimpan banyak cerita yang menyesakkan sanubari, titian panjang setapak, yang hanya dapat dilalui dua orang bila berjalan beriringan itu, tampak rusak disana sini, telah lama menyimpan muntab yang  terkatub dalam bungkamnya, hendak murka mereka pada tingkah manusia yang tak tau pantang larang, dia dapat membaca tanda amarah hutan bakau, dia mengangguk mengiyakan goyang dahan bakau, gemeletak papan titian, seolah mengerti, itulah tafsir yang ada dalam hatinya.
“ Tempat ini, kelak menjadi saksi bagi perbuatan manusia, yang datang tanpa menggenggam keimanan, kau tau bukan apa maksudku,”

“Iya, maksudmu seperti muda-mudi itu kan?” teluncukku mengarah tepat pada sepasang kekasih
“Kita terlalu abai dengan kebijaksanaan sejarah, pepuing yang kita lihat itu, adalah bukti betapa tidak pedulinya kita pada marwah melayu”
“Apa pentingnya bagiku,” lirih dalam hati.
Faisal terlalu mengambil berat soal moral muda-mudi melayu,
“ Ini kota melayu jang, tak kah kau sedari itu!, kota yang seharusnya sesak dengan kesantunan prilaku, tutur katanya tapi, kau lihat jang, sulit kita terserempak pada budaya tutur itu dalam keseharian, bila kita dapatipun hanya dalam even-even pertandingan”
Faisal mengambil posisi duduk pada titian lapuk itu, mengayun-ayunkan kakinya, hidup memang selalu berayun, begitu juga hatimu sal, terlampau dini di atas, dan terlalu singkat pula terjulur ke bawah, beraninya kau bicara tentang moral, biarlah mereka merumuskan jawabannya, mereka teteua adat yang katanya memegang erat tunjuk-ajar melayu yang hanya untuknya, bukan untuk lingkungannya, seolah merekalah yang layak bersandang tanjak, keris, lan tenunan indah songket-songket.
Aku tak berani menyangkalmu secara terang Sal,  kuturuti saja, ucap tuturmu, kuayukan jua dua kakiku, membentuk bayangan pada permukaan air, menambah gambar alam tentang kerapuhan pelantar usang, dan jasad yang jua akan renta dimamah usia.
“Semua kerisauanmu Sal, aku paham, hanya saja bila setakat merapal serapah, apalah makna usia muda kita, tidakkah lebih baik kita melakukan sesuatu yang membuat ini lebih bernilai,”
Matahari perlahan menukik ke arah jam tiga sore, mendesak kami untuk mengakhiri rententan risau, entah dengan solusi, atau dengan frase “Lantaklah Jang”. Sola moral, perkara yang harus ditempa dari satu batang pribadi, itu kesimpulan sederhana dari pemuda yang banyak malasnya ketimbang membaca.
Riwayat pelantar usang hutan bakau, harusnya disedari ramai untuk apa ia dibuat, pun pepuing sejarah Bandar Riau ini, benar kiranya sang bijak berkata “Orang yang besar adalah orang yang menghargai akar sejarahnya”, menghargai dengan mengambil contoh untuk dijadikan acuan dalam langkah menyusun masa hadapan.
“Sebentar lagi asar Sal, mari ke Masjid, dah itu kita lanjutkan jalan sore,”
Beranjak kami meninggalkan tempat itu, tempat yang membuat kami merutuki keadaan, keengganan, ketidakpedulian, semua tergambar dari tempat ini. Sungai Carang, Bandar Bersejarah, yang dapat kita telek dari rerimbun daun hutan Bakau.  



0 komentar:

Tinggalkan Komentar anda ya,

Best viewed on firefox 5+

like

follow me

CAHAYA HATI

Copyright © Design by Dadang Herdiana