Pelantar Usang Sungai Carang
Dia menghirup
begitu dalam susasana hutan bakau itu, tampak hijau namun sebenarnya menyimpan
banyak cerita yang menyesakkan sanubari, titian panjang setapak, yang hanya
dapat dilalui dua orang bila berjalan beriringan itu, tampak rusak disana sini,
telah lama menyimpan muntab yang
terkatub dalam bungkamnya, hendak murka mereka pada tingkah manusia yang
tak tau pantang larang, dia dapat membaca tanda amarah hutan bakau, dia mengangguk
mengiyakan goyang dahan bakau, gemeletak papan titian, seolah mengerti, itulah
tafsir yang ada dalam hatinya.
“ Tempat ini, kelak
menjadi saksi bagi perbuatan manusia, yang datang tanpa menggenggam keimanan,
kau tau bukan apa maksudku,”
“Iya, maksudmu
seperti muda-mudi itu kan?” teluncukku mengarah tepat pada sepasang kekasih
“Kita terlalu
abai dengan kebijaksanaan sejarah, pepuing yang kita lihat itu, adalah bukti
betapa tidak pedulinya kita pada marwah melayu”
“Apa pentingnya
bagiku,” lirih dalam hati.
Faisal terlalu
mengambil berat soal moral muda-mudi melayu,
“ Ini kota
melayu jang, tak kah kau sedari itu!, kota yang seharusnya sesak dengan
kesantunan prilaku, tutur katanya tapi, kau lihat jang, sulit kita terserempak
pada budaya tutur itu dalam keseharian, bila kita dapatipun hanya dalam
even-even pertandingan”
Faisal mengambil
posisi duduk pada titian lapuk itu, mengayun-ayunkan kakinya, hidup memang
selalu berayun, begitu juga hatimu sal, terlampau dini di atas, dan terlalu
singkat pula terjulur ke bawah, beraninya kau bicara tentang moral, biarlah
mereka merumuskan jawabannya, mereka teteua adat yang katanya memegang erat
tunjuk-ajar melayu yang hanya untuknya, bukan untuk lingkungannya, seolah
merekalah yang layak bersandang tanjak, keris, lan tenunan indah
songket-songket.
Aku tak berani
menyangkalmu secara terang Sal, kuturuti
saja, ucap tuturmu, kuayukan jua dua kakiku, membentuk bayangan pada permukaan
air, menambah gambar alam tentang kerapuhan pelantar usang, dan jasad yang jua
akan renta dimamah usia.
“Semua
kerisauanmu Sal, aku paham, hanya saja bila setakat merapal serapah, apalah
makna usia muda kita, tidakkah lebih baik kita melakukan sesuatu yang membuat
ini lebih bernilai,”
Matahari perlahan
menukik ke arah jam tiga sore, mendesak kami untuk mengakhiri rententan risau,
entah dengan solusi, atau dengan frase “Lantaklah Jang”. Sola moral,
perkara yang harus ditempa dari satu batang pribadi, itu kesimpulan sederhana
dari pemuda yang banyak malasnya ketimbang membaca.
Riwayat pelantar
usang hutan bakau, harusnya disedari ramai untuk apa ia dibuat, pun pepuing
sejarah Bandar Riau ini, benar kiranya sang bijak berkata “Orang yang besar
adalah orang yang menghargai akar sejarahnya”, menghargai dengan mengambil contoh
untuk dijadikan acuan dalam langkah menyusun masa hadapan.
“Sebentar lagi
asar Sal, mari ke Masjid, dah itu kita lanjutkan jalan sore,”
Beranjak kami
meninggalkan tempat itu, tempat yang membuat kami merutuki keadaan, keengganan,
ketidakpedulian, semua tergambar dari tempat ini. Sungai Carang, Bandar
Bersejarah, yang dapat kita telek dari rerimbun daun hutan Bakau.


0 komentar:
Tinggalkan Komentar anda ya,