Recent Posts

Senin, 12 Januari 2015

0 komentar

Mari Berteduh


Waktu telah leluasa mencuri kantuk dari kelopak mata,
mari berteduh barang sekejap,
setelah sesak seharian antri berjejalan,
 terpaksa memamah rindu yang memerah lara.
Mari berteduh di ruang rindu,
Cukup sesaat memasung hati yang memiliki kehilangan.

Mari berteduh,
hujan terlampau deras,
hujan yang mencipta kebisuan di bawah atap penantian,
tak sepatah kata terucap saat kita berdua saja,
benar, gigil masih saja milik hujan.

Mari berteduh,
Terik terlalu tajam menikam kulit.
Terik yang membuat kemaluan bisa saja tertanggal,
namun tak sejengkalpun kita mampu menambah jarak.
Hanya setakat menatap lekat.
Benar, bahwa panas masih saja milik terik.

Akhirnya hujan reda jua.
Reda yang tak kita nantikan sejak berteduh.
Reda yang tak menjawab akhir kita.
Inikah kesudahan yang kita inginkan?

Akhirnya teduh hadir juga
Teduh yang tak kita harapkan.
Teduh yang tak menerka teka-teki kita.
Inikah kesudahan rindu yang berbuah lara itu?

Mari mencari alasan terlogis,
untuk berteduh lagi,
hanya kita berdua saja.

Terinspirasi dari lagu payung teduh : Tidurlah



0 komentar:

Tinggalkan Komentar anda ya,

Best viewed on firefox 5+

like

follow me

CAHAYA HATI

Copyright © Design by Dadang Herdiana