Mari Berteduh
Waktu telah leluasa
mencuri kantuk dari kelopak mata,
mari berteduh barang
sekejap,
setelah sesak
seharian antri berjejalan,
terpaksa memamah rindu yang memerah lara.
Mari berteduh di
ruang rindu,
Cukup sesaat memasung
hati yang memiliki kehilangan.
Mari berteduh,
hujan terlampau
deras,
hujan yang mencipta
kebisuan di bawah atap penantian,
tak sepatah kata
terucap saat kita berdua saja,
benar, gigil masih saja
milik hujan.
Mari berteduh,
Terik terlalu tajam menikam
kulit.
Terik yang membuat
kemaluan bisa saja tertanggal,
namun tak sejengkalpun
kita mampu menambah jarak.
Hanya setakat
menatap lekat.
Benar, bahwa panas masih
saja milik terik.
Akhirnya hujan reda
jua.
Reda yang tak kita
nantikan sejak berteduh.
Reda yang tak
menjawab akhir kita.
Inikah kesudahan
yang kita inginkan?
Akhirnya teduh hadir
juga
Teduh yang tak kita
harapkan.
Teduh yang tak
menerka teka-teki kita.
Inikah kesudahan rindu
yang berbuah lara itu?
Mari mencari alasan terlogis,
untuk berteduh lagi,
hanya kita berdua saja.
Terinspirasi dari lagu payung teduh : Tidurlah


0 komentar:
Tinggalkan Komentar anda ya,