Jas Hujan
Tidak
membawa mantel hujan dimusim panca roba karena merasa runyam dan membebani
adalah titik dimana kamu tak lagi setia, atau juga boleh berarti kamu sudah
pasrah, dan siap, kapanpun hujan turun mengepung, gerimis kah, ataupun deras,
kamu tak lagi peduli mau basah, kedinginan, pilek dan demam, kamu tak lagi
peduli, tapi kenyataannya sangat jarang kamu temui
orang-orang dewasa yang mengurai air mata di bawah hujan.
Begitulah kiranya perumpamaan tolol tentang kesetiaan. Kamu sudah bosan karena selalu keliru menebak raut wajah langit, yang kamu sangka hujan rupanya malah terik sekali, yang kamu sangka terang eh ternyata hujan semena-mena membasahi, kasihan ya mulut yang tak pandai bersyukur, ya sudahlah, tinggalkan saja mantelmu, teruskan langkahmu, hujan itu berkah, terikpun indah, nikmati saja, bermantel ataupun tidak sekilas ternilai seperti ingin menyerah, tapi entahlah, semua orang punya penilaian sing-masing, terkait #kesetiaan, #istijabah, #persiapan, dan #tawakal.
Begitulah kiranya perumpamaan tolol tentang kesetiaan. Kamu sudah bosan karena selalu keliru menebak raut wajah langit, yang kamu sangka hujan rupanya malah terik sekali, yang kamu sangka terang eh ternyata hujan semena-mena membasahi, kasihan ya mulut yang tak pandai bersyukur, ya sudahlah, tinggalkan saja mantelmu, teruskan langkahmu, hujan itu berkah, terikpun indah, nikmati saja, bermantel ataupun tidak sekilas ternilai seperti ingin menyerah, tapi entahlah, semua orang punya penilaian sing-masing, terkait #kesetiaan, #istijabah, #persiapan, dan #tawakal.



0 komentar:
Tinggalkan Komentar anda ya,