Hati yang Turut Merasa
Pernah gak
terfikirkan tentang makna mendalam dari rasa kerinduan? Menurutku, kerinduan itu adalah suatu
kondisi, dimana kita hidup dalam suatu komunitas, suatu kelompok yang saling
memperhatikan.
Memperhatikan yang
kumaksud, bukan sekedar melihat dengan mata kepala, atau hanya dengan mata
hati, tapi perhatian itu diteruskan dengan gerakan tangan untuk turut
meringankan beban teman sesama komunitas.
Tentang komunitas,
tak jauh dari soal rasa kesamaan, tujuan yang serupa, dan pandangan serta ideologi
hidup yang semakna, karena semaknalah mereka berkumpul untuk mewujudkan harapan
yang mereka ciptakan dalam memori. Beragam harapan yang berkecamuk dalam setiap
benak anggotanya, terakumulasi menjadi kerja cerdas, kerja rapi dalam bingkai
komunitas, bergerak dengan apik, terorganisir, yang satu sakit maka sepantasnya
yang lain merasa rindu untuk membantu, bila yang satu gembira, turut kecipratan
mengukir senyuman. Begitulah makna lain dari bentuk suara kerinduan semua
manusia, terkhusus dalam suasana berduka.
Berduka, pernah
berduka kawan? Kalau berduka siapa yang datang? Atau gini,
pernah sakit parah? Ada gak temen yang datang menjengukmu? Ada gak temen
organisasimu yang merasa janggal atas beberapa absensimu dari deretan kegiatan
sosial, lantas mereka menanyakan keadaanmu? Itulah yang dinamakan bentuk lain
dari rasa rindu. Ketidak normalan yang mereka hadapi membuat mereka harus
bertanya, mengapa bisa berbeda tanpamu? Terasa ada kenangan yang mengusik jiwa
akan ketiadaanmu.
Kenangan yang mengusik jiwa itu, begitu saja meluncur dari hati menuju
bibir, menguapkan kisah tentangmu, sosokmu dari sudut pandang mereka. Coba sesekali
bayangkan, bila dirimu tinggallah jasad tanpa nyawa, nyawa yang bersemayam
dalam jasad itu tak berhak lagi menempati rumahnya, sebab sudah tiba batas
akhir dari pertualangan menimba bekal kehidupan akhirat menuju tempat
penimbangan amalan, yah untung-untung banyak yang dapat dibawa pulang ke
kampung akhirat, kalau tidak alamatlah kapal kan karam, pecah.
Pecah seperti mulut para pelayat yang pecah membicarakan tentang jasadmu
yang telah terbujur kaku, menanti dimandikan, dikafani, dan disholatkan.
“Si, anu itu bro, orangnya baik, banyak yang sayang, mudahh bergaul.. blo. Blo
blooo” Pecah hening seorang pelayat, sahut menyahut dengan pecahnya bibir yang
lain, hingga terdengar gemuruh pecah suara hingga menuju langit, berpantulan di
ruang hampa ruang angkasa, menanti malaikat yang bertugas memunguti kata mana
yang berpahala atau sekedar sampah belaka.
Merasa menjadi sampah tatkala, kau susah tapi tak ada yang perduli, karena
semasa hidup hanya mengotori, menyemak, berserak, “Lebih baik engaku tak ade,
dari pade merosak saje” Begitulah kasarnya bak kata orang melayu sini.
Tapi alhamdulillah, semalam sore, aku merasa aku bukan sampah yang tak
berguna, sebab ternyata sakitku, yang membuatku tak masuk kerja 4 hari itu, ditanggapi
dengan perasaan yang empati dari rekan-rekan Ustadz di sekolah, siangnya mereka
menelpon ingin menjenguk dan kuiyakan, sorenya mereka hadir, memberikan
semangat, bercerita tentang kondisi sekolah, dan memberiku senyuman, inilah
pertama kalinya aku tak punya beban tanggung jawab, sebab di titik lemahku
dalam sakit tersebut, aku diperhatikan makan dan kondisi lainnya yang
terjangkau tentunya bagi mereka, dan kondisi ini memungkinkan aku untuk fokus
dalam kenikmatan menikmati duka kesakitan. Ya, sakit itu harus dinikmati,
supaya sakit itu berkualitas. Tapi sejatinya aku tetaplah merasa sakit diantara
orang yang memperhatikanku, menyayangiku, namun pada saat yang bersamaan aku
juga merasa sendirian, sendiri menanggung rasa sakit yang dititipkan Allah, ya
memang tak sepadan jika ada yang berkata “Aku paham apa yang kau rasakan” ini
kalimat bohong, palsu.
Begitulah eksperimen rasa yang manusia lalui. Kerinduan tuk ditemani, untuk
sepenuhnya dipahami, untuk di-love-i, #apasih, dan untuk dirawat, itulah
perkara-perkara yang selalu terbit dalam wujud kata rindu. Namun, pada saat itu
jua, jiwa kita tak sejatinya dan sepenuhnya mampu dimengerti, tanya kenapa? Ya sebab
masing-masing kita memiliki perbedaan yang unik, dan keunikan itu tak
terwakilkan hanya sekedar dengan kata-kata yang njelimet atau dengan setakat
kata-kata sederhana, tak ada yang setimpal untuk menggambarkannya kawan,
yakinlah, cobalah.!
Sekedar kesimpulan awal, bahwa terkadang keunikan iri sendiri sering
menjebak kita dalam rasa yang menyiksa, kesepian merasa sendirian, walaupun
secara bersamaan pula keunikan itulah yang telah berjasa mencitrakan kita
dengan istilah karakter di mata orang lain. Yang memberikan kita sebebas
lepasnya untuk memilih mau jadi apa diri ini. Maka ada benarnya dalam konteks
ini kalimat galau yang menyatakan “Bagaikan hidup seorang diri, di tengah
ramai, terasa sendiri, sepi”. Buaye ke katak, Ye ke tidak?!
Maka sangat ngeri pada hari yang dipastikan itu, hari dimana tak pernah
terbayangkan betapa dahsyatnya dunia ini akan berguncang, bahawa, kita akan
sibuk dengan keunikan masing-masing, sibuk mematut diri dihadapan ilahi, yang
dulu waktu masa senggang berleha-leha bersama keluarga penuh cinta, bersama
wan-kawan organisasi saling mengerti, tak lagi berarti, kita sibuk
masing-masing sekali lagi sibuk layaknya orang yang terserang penyakit maha
dasyat tentang gigil ketakutan, gigil cemas, tersebab takut dicampakkan dalam
kehampaan tak terperi, dalam perigi api tak terjangkau setahun perjalanan yang
menyenangkan hati, ngeri maha dahsyat kawan, ngeri...
Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya
dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan)
pekerjaan mereka. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun,
niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan
kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (QS.
Az-Zalzalah, 99: 1-8).


0 komentar:
Tinggalkan Komentar anda ya,