Recent Posts

Jumat, 17 Oktober 2014

0 komentar

Hati yang Turut Merasa




Pernah gak terfikirkan tentang makna mendalam dari rasa kerinduan?  Menurutku, kerinduan itu adalah suatu kondisi, dimana kita hidup dalam suatu komunitas, suatu kelompok yang saling memperhatikan.
Memperhatikan yang kumaksud, bukan sekedar melihat dengan mata kepala, atau hanya dengan mata hati, tapi perhatian itu diteruskan dengan gerakan tangan untuk turut meringankan beban teman sesama komunitas.

Tentang komunitas, tak jauh dari soal rasa kesamaan, tujuan yang serupa, dan pandangan serta ideologi hidup yang semakna, karena semaknalah mereka berkumpul untuk mewujudkan harapan yang mereka ciptakan dalam memori. Beragam harapan yang berkecamuk dalam setiap benak anggotanya, terakumulasi menjadi kerja cerdas, kerja rapi dalam bingkai komunitas, bergerak dengan apik, terorganisir, yang satu sakit maka sepantasnya yang lain merasa rindu untuk membantu, bila yang satu gembira, turut kecipratan mengukir senyuman. Begitulah makna lain dari bentuk suara kerinduan semua manusia, terkhusus dalam suasana berduka.
Berduka, pernah berduka kawan? Kalau berduka siapa yang datang? Atau gini, pernah sakit parah? Ada gak temen yang datang menjengukmu? Ada gak temen organisasimu yang merasa janggal atas beberapa absensimu dari deretan kegiatan sosial, lantas mereka menanyakan keadaanmu? Itulah yang dinamakan bentuk lain dari rasa rindu. Ketidak normalan yang mereka hadapi membuat mereka harus bertanya, mengapa bisa berbeda tanpamu? Terasa ada kenangan yang mengusik jiwa akan ketiadaanmu.
Kenangan yang mengusik jiwa itu, begitu saja meluncur dari hati menuju bibir, menguapkan kisah tentangmu, sosokmu dari sudut pandang mereka. Coba sesekali bayangkan, bila dirimu tinggallah jasad tanpa nyawa, nyawa yang bersemayam dalam jasad itu tak berhak lagi menempati rumahnya, sebab sudah tiba batas akhir dari pertualangan menimba bekal kehidupan akhirat menuju tempat penimbangan amalan, yah untung-untung banyak yang dapat dibawa pulang ke kampung akhirat, kalau tidak alamatlah kapal kan karam, pecah.
Pecah seperti mulut para pelayat yang pecah membicarakan tentang jasadmu yang telah terbujur kaku, menanti dimandikan, dikafani, dan disholatkan.
“Si, anu itu bro, orangnya baik, banyak yang sayang, mudahh bergaul.. blo. Blo blooo” Pecah hening seorang pelayat, sahut menyahut dengan pecahnya bibir yang lain, hingga terdengar gemuruh pecah suara hingga menuju langit, berpantulan di ruang hampa ruang angkasa, menanti malaikat yang bertugas memunguti kata mana yang berpahala atau sekedar sampah belaka.
Merasa menjadi sampah tatkala, kau susah tapi tak ada yang perduli, karena semasa hidup hanya mengotori, menyemak, berserak, “Lebih baik engaku tak ade, dari pade merosak saje” Begitulah kasarnya bak kata orang melayu sini.
Tapi alhamdulillah, semalam sore, aku merasa aku bukan sampah yang tak berguna, sebab ternyata sakitku, yang membuatku tak masuk kerja 4 hari itu, ditanggapi dengan perasaan yang empati dari rekan-rekan Ustadz di sekolah, siangnya mereka menelpon ingin menjenguk dan kuiyakan, sorenya mereka hadir, memberikan semangat, bercerita tentang kondisi sekolah, dan memberiku senyuman, inilah pertama kalinya aku tak punya beban tanggung jawab, sebab di titik lemahku dalam sakit tersebut, aku diperhatikan makan dan kondisi lainnya yang terjangkau tentunya bagi mereka, dan kondisi ini memungkinkan aku untuk fokus dalam kenikmatan menikmati duka kesakitan. Ya, sakit itu harus dinikmati, supaya sakit itu berkualitas. Tapi sejatinya aku tetaplah merasa sakit diantara orang yang memperhatikanku, menyayangiku, namun pada saat yang bersamaan aku juga merasa sendirian, sendiri menanggung rasa sakit yang dititipkan Allah, ya memang tak sepadan jika ada yang berkata “Aku paham apa yang kau rasakan” ini kalimat bohong, palsu.
Begitulah eksperimen rasa yang manusia lalui. Kerinduan tuk ditemani, untuk sepenuhnya dipahami, untuk di-love-i, #apasih, dan untuk dirawat, itulah perkara-perkara yang selalu terbit dalam wujud kata rindu. Namun, pada saat itu jua, jiwa kita tak sejatinya dan sepenuhnya mampu dimengerti, tanya kenapa? Ya sebab masing-masing kita memiliki perbedaan yang unik, dan keunikan itu tak terwakilkan hanya sekedar dengan kata-kata yang njelimet atau dengan setakat kata-kata sederhana, tak ada yang setimpal untuk menggambarkannya kawan, yakinlah, cobalah.!
Sekedar kesimpulan awal, bahwa terkadang keunikan iri sendiri sering menjebak kita dalam rasa yang menyiksa, kesepian merasa sendirian, walaupun secara bersamaan pula keunikan itulah yang telah berjasa mencitrakan kita dengan istilah karakter di mata orang lain. Yang memberikan kita sebebas lepasnya untuk memilih mau jadi apa diri ini. Maka ada benarnya dalam konteks ini kalimat galau yang menyatakan “Bagaikan hidup seorang diri, di tengah ramai, terasa sendiri, sepi”. Buaye ke katak, Ye ke tidak?!
Maka sangat ngeri pada hari yang dipastikan itu, hari dimana tak pernah terbayangkan betapa dahsyatnya dunia ini akan berguncang, bahawa, kita akan sibuk dengan keunikan masing-masing, sibuk mematut diri dihadapan ilahi, yang dulu waktu masa senggang berleha-leha bersama keluarga penuh cinta, bersama wan-kawan organisasi saling mengerti, tak lagi berarti, kita sibuk masing-masing sekali lagi sibuk layaknya orang yang terserang penyakit maha dasyat tentang gigil ketakutan, gigil cemas, tersebab takut dicampakkan dalam kehampaan tak terperi, dalam perigi api tak terjangkau setahun perjalanan yang menyenangkan hati, ngeri maha dahsyat kawan, ngeri...
Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka. Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.”  (QS. Az-Zalzalah, 99: 1-8).


         



0 komentar:

Tinggalkan Komentar anda ya,

Best viewed on firefox 5+

like

follow me

CAHAYA HATI

Copyright © Design by Dadang Herdiana