Bulang Cahaya (Tragedi Kasih Tak Sampai)
| http://petahmelayu.com/melayu-dan-bugis-bertelegah-dalam-bulang-cahaya.html |
Elang putih//
berekor
panjang//
mengigal
berahi//
di
ujung tanjung//
mengirim
isyarat//
ke
semua pintu.
Terima
cintaku//
cinta
tak berkeris//
cinta
tak bersuku//
cinta
yang tak tersurat//
Angin
berkisar//
perahu
berlayar//
ku
dengar sendumu//
di
ujung sitar.
layang-layang//
bertali
benang//
putus
benang//
tali
belati//
cinta
ku lepas, cinta ku kenang//
cinta
sejati, ku biar pergi//
hati
ku kusut//
rindu
ku hanyut//
berahi
ku luput.
Ombak
gemuruh//
mengobar
dendam//
membakar
hari//
mengubur
mimpi//
mengirim
rindu//
ke
semua pintu.
Inilah
cinta ku//
ku
dulang jadi timah//
ku
pahat jadi patung//
ku
rendam jadi rempah//
ku
gulai bagai rebung//
ku
simpan duka ku//
sampai
ke ujung.
kemarau
menderau//
padang
kerontang//
sedih//
pedih//
dendam//
rindu//
sangkak//
pantang//
sumpah//
seranah//
jadi
barah//
jadi luka//
sejarah.
Tentang Rida K Liamsi
Rida K Liamsi jika dibaca dari belakang (kanak
ke kiri) maka akan muncul nama Ismail Kadir. Itulah nama sebenarnya dari
penyair ini. Juga pernah menggunakan nama pena Iskandar Leo. Lahir di Dabosingkep, Provinsi Kepulauan
Riau, 17 Juli 1943. Pernah menjadi guru Sekolah Dasar, sebelum terjun menjadi
Jurnalis. Delapan tahun jadi wartawan Tempo, lima tahun di harian Suara karya,
kemudian ke Riau Pos, hingga menjadi CEO Riau Pos Group (RPG). Kumpulan
puisinya: Ode X (1971) dalam bentuk
stensilan, Tempuling (2003). Novelnya
Bulang Cahaya (2007). Kumpulan
puisinya yang terbaru Rose. Mendirikan Yayasan Sagang, di mana sejak 1997 telah menerbitkan
Majalah Budaya Sagang. Dan setiap tahunnya, sejak 1996, memberikan penghargaan
kepada Seniman dan budayawan, karya-karya budaya, institusi budaya, penelitian
budaya serta jurnalisme budaya yang bernafaskan budaya Melayu, yang diberi nama
Anugerah Sagang.


0 komentar:
Tinggalkan Komentar anda ya,