Katamu
Di Planetmu semua
orang telanjang
Tapi di bumiku,
orang-orang berpakaian
(Hanya dikondisi
tertentu kami boleh menampakkan tubuh tanpa sehelai benang)
Di Tempatmu, tidak
ada yang mampu berkata bohong
Sebab bohong
bukanlah pilihan
Namun di bumiku,
orang-orang sering berdusta
Untuk mencuri uang,
menyentuh cinta, merebut tahta
Orang bumi teramat
nazi menggenggam kebaikan
Di tanahmu, tidak
ada bahasa
Bila ingin bertukar
pesan, kalian cukup berpegangan tangan
Lakin, di tanahku,
kau temui beragam bahsa dengan cara serta intonasi pengungkapannya,
Salah saja diantara
itu, alamat makna tak sampai pada gendang hati,
“Rumit sekali,”
nilaimu.
Di kota asalmu, kau
tak banyak belajar
Tapi di kotaku, kau
telah menguasai 12 bahasa, hanya dalam hitungan jam
Kau sentuh saja
mereka yang berbicara, kan kau dapati bahasa mereka,
Awalnya aku kira
itu dusta.
Di desamu, tak kau
temui rumah Tuhan dan arti ber-Tuhan,
Di desaku, kau temui
berbagai “kembaran” Tuhan,
Satu persatu kau
puja, tapi tak satupun dari mereka yang menhantarkanmu pulang,
Hingga kau
simpulkan,
“Sembahlah Tuhan,
bukan kembaran-Nya yang diciptakan tangan manusia”
Di rumahmu, kau tak
mengenal cinta
Tapi di kamarku,
kau belajar menangis rindu,
Tatapan sendu,
membunuh waktu, selalu ingin dekat denganku, awal nya aku tak mengerti
Hingga akhirnya,
Di bawah atap awan
nan cerah biru, kau berdusta,
Walau hanya sekali,
kau sukses melakukannya,
Itu dapat kubaca, dari berbagai serpihan
mozaik tanda,
Hingga tanda
terakhir,
Kau berdusta tak
mencintaiku,
Tanpa menoleh kau
berlalu, dusta maha sempurna.
Sampai jumpa, yang datang
tanpa tanggal lahir,
Dan pergi tanpa
tanggal mati.



0 komentar:
Tinggalkan Komentar anda ya,