Ayah Pasti Pulang, nak! (kalau bukan padamu, ya pada-Mu)
| lukisan Raden Saleh |
Ayah
pasti pulang nak,
sebelum
pipimu kempes tak tembem lagi.
Ayah
pasti mengetuk jendela rumah nak,
menyadarkan
penantian panjangmu.
Jalan
pulang masih panjang nak,
tapi
yakinlah penantianmu tak sia-sia,
walau
ayah belum wujud di sisimu.
Ketahuilah
sesungguhnya embun jantan, renjis gerimis, desau bayu, gradasi cahaya fajar
senja, adalah utusan ayahmu, mereka sangat terampil membungkus rapi rindu,
untukmu.
Ayah
sempatkan mengirim kabar, nak.
Membayar
lunas rasa bersalah,
keringkan
sapu tanganmu,
percayalah,
tersebab gumpalan awan, tetunas hijau tanaman, adalah berita kepulanganku.
7
tahun setelah tanpa tahun.
Ba’da
pipiku tak lagi comel,
aku
mengerti ma’rifat rindu,
benar,
kau telah pulang sebelum kempes pipiku.
Kini
ku faham arti keringatmu,
Yang
telah menenggelamkan kapal pulang,
Robekkan
layar,
Patahkan
kemudi,
Karamkan
harapanmu; menemui ku.
Rindu;
selalunya begitu,
Tanpa
musim, tanpa tanda, tiba-tiba.


0 komentar:
Tinggalkan Komentar anda ya,